Mengapa Orang Enggan Membeli Asuransi Properti?

tanya-kenapaKebakaran, bajir, dan gempa bumi sering terjadi tanpa diduga-duga. Ketika hal ini terjadi, biasanya akan timbul kerugian baik itu dari korban jiwa maupun kerusakan pada properti. Bencana alam ini tentu saja membawa kesedihan kepada banyak orang. Untuk korban jiwa memang hal tersebut tidak ada ganti ruginya. Ini artinya orang yang ditinggalkan tidak bisa lagi melihat korban kedepannya. Namun, untuk properti, pemilik properti masih bisa membangun kembali propertinya apalagi jika ada ganti rugi dari pihak asuransi. Masalahnya adalah ada banyak pemilik properti di luar sana yang tidak menyadari hal ini. Mereka cenderung malas atau enggan mengasuransikan properti ini.

Sebenarnya apa alasan mereka enggan membeli asuransi properti? Simak jawabannya di bawah ini:

Bukan produk asuransi yang penting

Mereka mungkin menganggap bahwa asuransi kesehatan, pendidikan, dan jiwa adalah produk-produk asuransi yang lebih penting daripada asuransi properti. Hal inilah yang membuat mereka berpikir dua kali untuk membeli asuransi ini. Memang ketiga asuransi itu sangatlah penting untuk dimiliki, tapi itu bukan berarti bahwa asuransi properti harus diabaikan. “Ah, aku kan tinggal di tempat yang jarang sekali terjadi bencana alama!” Jika ini alasannya, coba tanyakan diri Anda, apakah properti yang dimiliki tidak akan rusak jika terjadi huru-hara, pengrusakan masal, atau perbuatan jahat? Apabila hal ini terjadi, apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki properti yang rusak tersebut? Tentu, Anda akan mengeluarkan uang sendiri dalam jumlah banyak.

Berbeda halnya jika Anda memiliki asuransi properti, kerusakan tersebut dapat dialihkan ke pihak asuransi sehingga Anda tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membangun kembali atau memperbaiki properti Anda.

Preminya mahal

Memang banyak orang yang menganggap bahwa premi properti itu sangatlah mahal. Apakah anggapan ini benar? Tentu saja tidak karena besarnya premi ditentukan oleh jenis perlindungan yang diambil, bahan properti, dan jenis properti. Misalnya, jika Anda mengasuransikan rumah kayu, tentu premi yang dibayar jauh lebih mahal jika dibangikan dengan nasabah yang mengasuransikan rumah dari bata dan semen. Contoh lainnya adalah Anda akan membayar premi jauh lebih banyak jika Anda mengasuransikan pabrik korek api, kembang api, korek gas, atau pabrik-pabrik lain yang memiliki resiko kebakaran yang tinggi dibandingkan dengan pabrik-pabrik yang kemungkinan kebakarannya rendah, seperti pabrik susu, ice cream, kue, dan lain sebagainya. Sementara itu, untuk jenis perlindungan sendiri, perlindungan all risk preminya jauh lebih mahal daripada perlindungan standar kebakaran.

Prosedur klaimnya susah

Apakah Anda akan mendapatkan kemudahan jika Anda tidak mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh pihak perusahaan asuransi? Atau apakah Anda bisa mengikuti tahapan prosedur pengajuan klaim jika Anda memalsukan data? Tentu jawaban dari kedua pertanyaan ini adalah tidak. Hal inilah yang membuat banyak orang menganggap bahwa prosedur klaim dari asuransi properti susah. Sebenarnya, pengajuan klaim produk asuransi ini cukup sederhana di mana nasabah hanya perlu membuat laporan dan mengisi formulir tertulis yang sudah disediakan. Kemudian melengkapi berkas yang dibutuhkan, seperti surat keterangan kepolisian, surat keterangan RT dan RW, dan bukti berupa foto/video terkait kerusakan yang terjadi pada properti. Setelah berkas-berkas diserahkan, pihak asuransi akan mengeceknya dan apabila sudah valid, uang ganti rugi pun akan segera dicairkan. Memang semua ini memakan waktu dan tenaga, tapi hal tersebut wajar-wajar saja karena untuk menghasilkan atau mendapatkan sesuatu membutuhkan proses.

Faktor Apa Saja yang Mempengaruhi Suku Premi Asuransi Properti?

Premi asuransi properti

Setiap rumah, toko, pabrik, apartemen, atau bangunan lainnya pada dasarnya memiliki resiko kebakaran yang besar mengingat kegiatan sehari-hari berkaitan erat dengan listrik & api. Di samping itu, menjadi korban pencurian atau perampokan pun sangat mungkin terjadi  apalagi cari pekerjaan sekarang sulit. Belum lagi apabila bangunan berada di dekat selokan, sungai, atau di dataran rendah yang rawan banjir, resiko kerugian akibat peralatan rumah tangga rusak karena banjir bakal dihadapi. Membeli asuransi properti jadi satu-satunya manajemen resiko yang patut dilakukan.  Untuk bisa mendapatkan manfaat dari polis asuransi properti, Anda harus membayar premi setiap bulannya. Menyinggung soal suku premi asuransi properti, faktor apa saja yang mempengaruhinya?

Kelas konstruksi bangunan. Konstruksi bangunan dapat dibagi dalam 3 kelas. Kelas pertama, konstruksi bangunan bisa dibilang tahan api. Kelas kedua, konstruksi bangunan relatif tahan api. Kelas ketiga, konstruksi bangunan mudah terbakar. Prinsipnya, semakin berkualitas bangunan yang akan diasuransikan, akan semakin rendah suku premi yang ditawarkan perusahaan, begitupula sebaliknya. Dengan kata lain, rumah kayu yang mudah terbakar akan memiliki premi yang besar dibanding rumah beton.

Penggunaan bangunan. Premi asuransi properti untuk tipe tempat tinggal tentu akan lebih ringan dibanding premi asuransi properti untuk tipe pabrik atau tempat kegiatan usaha. Mengapa? Aktivitas yang dilakukan di pabrik lebih banyak bahkan terus menerus. Meski telah mengikuti SOP untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tetap saja peluang kebakaran utamanya akan sangat besar karena bisa saja karyawan lelah sehingga turun konsentrasi & membuat kesalahan. Ditambah lagi jika barang yang diproduksi atau bahan pembuatan produksi adalah barang mudah terbakar.

Peluang terjadinya musibah. Pihak asuransi pun bakal mengecek berbagai aspek untuk menentukan suku premi asuransi properti. Misalnya, lokasi konstruksi bangunan berada di bantaran sungai, di dataran rendah, atau dekat dengan selokan yang rawan banjir akan memiliki premi yang tinggi. Lokasi konstruksi yang berada di lingkungan para preman, tentunya sangat besar menjadi targetnya yang juga akan membuat premi tinggi kepada.  Begitupula konstruksi bangunan dalam tipe pabrik, untuk pabrik korek api, bahan kimia, kertas, atau barang mudah terbakar lainnya bakal memiliki premi yang tinggi pula.

Catatan kerugian yang pernah terjadi. Musibah apa yang pernah terjadi para properti yang bakal diasuransikan? Apakah pernah terjadi perampokan, kebanjiran, kebakaran, atau lainnya? Ini bakal menjadi pertimbangan pihak asuransi dalam menetapkan suku premi yang harus dibayar. Properti yang memiliki riwayat musibah minim bahkan tidak ada akan memiliki tawaran premi yang lebih rendah dibanding yang telah berulang kali mengalami musibah. Asumsinya, peluang terjadinya musibah untuk kedua, ketiga, atau kesekian kalinya bakal sangat besar.

Jaminan perluasan. Resiko dasar yang dijamin rata-rata perusahaan asuransi dan tercantum dalam polis asuransi properti tepatnya untuk jenis perlindungan standar kebakaran Indonesia di antaranya: kebakaran baik yang disebabkan oleh korsleting listrik atau menjalarnya api dari benda di dalam bangunan, petir yang menyambar alat elektronik, ledakan yang berasal dari benda yang dipertanggungkan, dan pesawat yang jatuh hingga menghancurkan konstruksi bangunan. Untuk kerusakan properti akibat bencana alam, terorisme, atau kerusuhan menjadi jaminan perluasan yang bakal menambah suku premi yang harus dibayar.

Di samping itu, suku premi asuransi properti juga dipengaruhi oleh barang-barang di dalam konstruksi bangunan yang bakal dipertanggungkan. Dapat disimpulkan bahwa suku premi yang ditawarkan perusahaan asuransi tidak mengada-ada. Ada bukti, perkiraan, dan panduan yang dapat mengarahkan berapa suku premi yang harus dibayar. Kendatipun demikian, tidak ada salahnya membandingkan tawaran premi di perusahaan satu dengan perusahaan lain untuk mendapatkan yang lebih terjangkau 😀